Beberapa tahun terakhir, penggunaan bahan plat stenlis gold (warna emas) lebih banyak diminati oleh para customer dan pengrajin huruf timbul, produk seni kaligrafi, dan jenis-jenis produk kreatif lainnya. Bahan plat stenlis gold termasuk tipe stenlis varian 201.

Dibandingkan dengan bahan plat kuningan, plat stenlis gold memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan yang paling mendasar adalah harganya lebih murah dan ukurannya lebih luas.

Kelebihan-kelebihan lainnya adalah plat stenlis gold memiliki permukaan relatif lebih rata sehingga hasil produk yang dibuat misalnya huruf timbul atau kaligrafi terlihat lebih bagus. Bahan kuningan memiliki permukaan sedikit bergelombang karena bahannya tidak sekeras plat stenlis gold, agak empuk. Hasil produk kerajinan yang dibuat dari bahan kuningan apalagi ukurannya besar, maka permukaan produk tersebut tidak sebagus produk yang dibuat dari bahan stenlis gold.

Plat stenlis gold tidak membutuhkan proses pemolesan karena permukaan sudah mengkilap dari bahan dasarnya. Berbeda dengan plat kuningan, untuk membuat permukaan mengkilap harus melalui proses pemolesan dan coating. Hal ini tentu saja membutuhkan waktu dan biaya lebih besar. Plat stenlis gold tidak membutuhkan maintenance yang mahal dan aman digunakan untuk indoor dan outdoor. Berbeda dengan bahan kuningan, apabila digunakan untuk outdoor, maka dalam beberapa tahun diperlukan lagi pemolesan dan coating ulang.

Gambar di atas adalah contoh produk kaligrafi "Laa Ilaaha Illaa Allah Muhammad Rasulullah" yang dibuat dari bahan plat stenlis gold. Inilah beberapa kelebihan dari plat stenlis gold vs. plat kuningan menurut pengamatan dan pengalaman kami di lapangan. (abuqail)
lanjutannya klik di sini...

Artikel ini saya tulis sekedar memberikan pandangan atau wawasan dasar tentang peranan kaligrafi dalam dunia dakwah Islam. Hal ini dilatarbelakangi anggapan di kalangan sebagian kaum muslimin dengan mengatakan bahwa "al Qur'an bukan untuk Ditulis, tapi untuk Dibaca".

Mereka menganggap bahwa terpeliharanya al Qur'an sampai masa kini semata-mata jasa para penghafal al Quran. Betul sekali, tapi jangan lupa bahwa para penulis al Quran (wahyu) juga memiliki jasa besar. Dari para penulis wahyu dikumpulkan naskah-naskah al Qur'an sehingga menjadi mushaf al Quran yang kita baca sekarang.

Al-Qur’an adalah mukjizat yang menjadi pedoman hidup umat Islam di seluruh dunia. Selain kandungan isinya yang sarat dengan petunjuk dan hikmah, keindahan Al-Qur’an juga memancar dari dua aspek utama: bacaan dan tulisan. Kedua aspek ini tidak hanya memperkuat kesakralan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi wujud nyata dari keagungan wahyu Allah SWT.

Keindahan dalam Bacaan

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan gaya bahasa yang tak tertandingi. Keindahannya terletak pada ritme, rima, dan pilihan katanya yang sempurna. Bahkan, para ahli bahasa Arab di masa Rasulullah SAW pun tidak mampu membuat satu ayat pun yang menyamai keindahannya.
Bacaan Al-Qur’an yang tartil, dengan pengucapan yang benar (tajwid), semakin menambah keindahannya. Suara qari (pembaca Al-Qur’an) yang merdu mampu menggetarkan hati, membawa kedamaian, dan mendekatkan pembaca atau pendengar kepada Allah SWT.

Keindahan dalam Tulisan

Tidak hanya keindahan bacaan, Al-Qur’an juga memiliki daya tarik dalam aspek tulisannya. Tulisan Al-Qur’an menjadi bentuk seni yang memukau, terutama melalui seni kaligrafi. Sejak zaman dahulu, para ulama dan seniman muslim telah mengembangkan berbagai gaya tulisan untuk menghormati dan memuliakan Al-Qur’an.

Seni kaligrafi Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai cara menyampaikan teks, tetapi juga menjadi penghormatan visual terhadap firman Allah. Gaya-gaya seperti Kufi, Naskhi, Thuluts, Diwani, dan Farisi mencerminkan estetika dan kerumitan seni Islam. Setiap huruf ditulis dengan penuh perhatian, ketelitian, dan memastikan keindahan serta akurasi kaidah.

Mengapa Tulisan Al-Qur’an Begitu Penting?
  1. Memuliakan Firman Allah
    Penulisan Al-Qur’an yang indah adalah bentuk ibadah. Seni kaligrafi bukan hanya sekadar seni, tetapi juga cara menghormati firman Allah. Dengan tulisan yang rapi dan estetis, Al-Qur’an menjadi lebih mudah dihormati oleh umat Islam.

  2. Sarana Dakwah Visual
    Tulisan Al-Qur’an yang indah sering digunakan untuk memperkenalkan Islam kepada orang lain. Hiasan-hiasan kaligrafi Al-Qur’an di masjid, rumah, atau tempat umum menarik perhatian banyak orang, termasuk non-Muslim, sehingga menjadi sarana dakwah yang efektif.

  3. Meningkatkan Kecintaan pada Al-Qur’an
    Tulisan yang indah dapat menumbuhkan kecintaan pada Al-Qur’an. Ketika seseorang membaca mushaf dengan huruf yang rapi dan estetis, hati menjadi lebih tenteram dan fokus untuk memahami isinya.

  4. Simbiosis Bacaan dan Tulisan
    Keindahan bacaan dan tulisan Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi. Bacaan Al-Qur’an membawa makna dan pesan spiritual, sementara tulisan Al-Qur’an menghadirkan penghormatan visual yang abadi. Kombinasi keduanya menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang sempurna, tidak hanya dalam isi tetapi juga dalam penyampaiannya.
Kesimpulan
Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada lantunan ayat-ayatnya, tetapi juga pada seni tulisannya. Keduanya adalah refleksi dari keagungan Allah SWT yang tak terbatas. Bagi umat Islam, memahami dan menghormati kedua aspek ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat terbesar yang Allah berikan berupa petunjuk hidup melalui Al-Qur’an.

Dengan menjaga keindahan bacaan dan tulisan Al-Qur’an, kita turut menjaga keagungannya sebagai pedoman hidup sepanjang masa. Penulis masih menjumpai banyak masjid-masjid dengan arsitektur bangunan yang mewah, bacaan para imam rawatib yang indah, namun tulisan kaligrafi al Qur'an yang terkesan asal-asalan jauh di bawah standar keindahan. Mengapa, karena belum memiliki pengetahuan mengenai kaidah penulisan kaligrafi yang benar dan indah. والله اعلم بالصواب (abuqail)
lanjutannya klik di sini...

Kaligrafi Islam telah menjadi salah satu warisan seni yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna. Kaligrafi ini memainkan peran penting dalam mengekspresikan keindahan Islam melalui penulisan ayat-ayat Al-Qur'an, nama-nama Allah, dan nama Nabi Muhammad SAW. Lebih dari sekadar hiasan, kaligrafi Islam mengandung nilai spiritual yang mendalam, menghormati pesan-pesan suci, dan membentuk suasana ibadah yang lebih khusyuk. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi keindahan kaligrafi Islam dan pentingnya menggunakan kaidah penulisan yang benar untuk menjaga keagungan dan kehormatan dalam karya kaligrafi.

1. Keindahan Kaligrafi Islam dalam Sejarah Kaligrafi Islam mulai berkembang pesat sejak masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Dengan larangan membuat representasi manusia dalam seni Islam, para seniman mencari media alternatif untuk mengekspresikan keindahan, dan kaligrafi menjadi salah satu bentuk seni yang paling dihormati. Mereka menuangkan kreativitasnya dalam bentuk penulisan ayat-ayat Al-Qur'an dengan gaya yang artistik. Seni kaligrafi ini kemudian dipopulerkan oleh para khalifah dan ulama, yang menggunakan tulisan untuk menghiasi masjid, istana, dan berbagai manuskrip.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah kaligrafi Islam adalah Ibn Muqla, yang hidup pada abad ke-10. Ia dianggap sebagai pionir dalam sistematisasi bentuk dan proporsi huruf Arab, mengembangkan kaidah penulisan yang akurat. Melalui kaidah inilah, lahir berbagai gaya kaligrafi, seperti kufi, naskhi, thuluth, dan diwani, yang masing-masing memiliki ciri khas dan penggunaan yang berbeda.

2. Gaya-Gaya atau jenis-jenis Tulisan Kaligrafi Islam

Ada beberapa gaya utama dalam kaligrafi Islam yang memiliki keindahan tersendiri:

Kufi: Merupakan gaya kaligrafi tertua yang bersifat geometris dan digunakan dalam penulisan mushaf Al-Qur'an pada masa awal. Bentuknya yang tegas dan simetris sering dipakai untuk hiasan dinding masjid.

Naskhi: Gaya naskhi bersifat lebih halus dan mudah dibaca, sehingga sering digunakan dalam penulisan buku dan manuskrip Al-Qur'an.

Thuluth: Dikenal dengan lekukan hurufnya yang panjang dan berani, gaya thuluth sering ditemukan di bangunan-bangunan masjid dan monumen. Thuluth membutuhkan keterampilan tinggi karena komposisinya yang rumit.

Diwani: Gaya yang populer pada era Kesultanan Utsmani, gaya diwani dicirikan dengan bentuk-bentuk melengkung dan tumpang tindih. Gaya ini lebih dekoratif dan biasa digunakan dalam surat-surat resmi. Dan masih banyak gaya-gaya penulisan lainnya.

Setiap gaya kaligrafi ini membutuhkan keahlian khusus, karena masing-masing memiliki kaidah penulisan dan aturan proporsional yang harus diikuti untuk menghasilkan keindahan yang seimbang.

3. Kaidah Penulisan dalam Kaligrafi Islam

Untuk menjaga kemurnian dan keindahan kaligrafi Islam, para kaligrafer berpegang pada kaidah penulisan yang ketat. Kaidah-kaidah ini membantu menjaga proporsi huruf, konsistensi, dan keseimbangan dalam tulisan. Beberapa kaidah dasar yang perlu diikuti dalam kaligrafi Islam meliputi:

Kaidah Huruf dan Proporsi: Setiap huruf memiliki ukuran proporsional yang ditentukan dengan menggunakan satuan “nuqta” atau titik, yang diambil dari diameter pena kaligrafi. Ukuran nuqta menentukan tinggi, lebar, dan jarak antara huruf agar tampak harmonis.

Kaidah Simetri dan Keseimbangan: Kaligrafer perlu menjaga keseimbangan antara unsur horizontal dan vertikal dalam tulisan, sehingga tidak hanya mudah dibaca, tetapi juga estetik. Hal ini biasanya dilakukan dengan membuat kerangka garis bayangan sebelum menulis huruf secara lengkap.

Kaidah Konsistensi Gaya: Meskipun satu karya kaligrafi bisa memadukan berbagai gaya, setiap gaya memiliki ciri khas yang harus dijaga. Misalnya, gaya thuluth tidak akan dicampur dengan naskhi dalam satu susunan kalimat kecuali dengan komposisi tertentu.

4. Nilai Spiritualitas dalam Kaligrafi Islam

Kaligrafi Islam bukan hanya seni, tetapi juga sarana ibadah. Menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an, nama-nama Allah, atau nama Nabi Muhammad SAW dengan kaligrafi dapat menjadi bentuk ibadah dan kecintaan pada agama. Kaligrafi menjadi bentuk penghormatan terhadap Al-Qur'an yang suci, dan proses pembuatan kaligrafi melibatkan ketulusan hati dan rasa khusyuk yang mendalam.

Kisah tentang seorang pendosa yang diampuni karena menghormati nama Nabi Muhammad SAW dalam tulisan adalah salah satu contoh bagaimana kaligrafi memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Tindakan menghormati nama-nama suci dalam kaligrafi merupakan refleksi dari rasa cinta dan penghormatan yang dalam, yang bisa membawa berkah dan ampunan Allah.

5. Penerapan Kaligrafi di Masjid dan Ruang Ibadah

Kaligrafi sering menghiasi dinding masjid, kubah, mihrab, hingga pintu-pintu masjid. Penempatan ini bertujuan untuk mengingatkan jamaah pada keagungan Allah dan membawa suasana masjid yang lebih sakral dan khusyuk. Namun, penting untuk memperhatikan kaidah yang benar dalam memilih ayat atau nama suci, menjaga agar kaligrafi tidak mengganggu kekhusyukan dalam ibadah, dan memastikan bahwa karya kaligrafi di masjid ditulis oleh seniman yang paham kaidah penulisan yang benar. Jika tidak, maka kaligrafi dianggap oleh sebagian orang hanya mengganggu kekhusyuan dan tidak menambah keindahan interior masjid.

Mengakhiri tulisan ini, saya menyimpulkan bahwa kaligrafi Islam adalah perpaduan antara seni dan ibadah yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus spiritualitas mendalam. Melalui penggunaan kaidah penulisan yang benar, kaligrafi dapat mencapai keindahan yang harmonis dan memberikan pesan keagamaan dan menguatkan nilai kebenaran, seperti dalam pepatah arab "الخط الحسن يزيد الحق وضوحاً" (Al-khatt al-hasan yaziidu al-haqqa wudhuuhan) artinya, “Tulisan yang indah akan menambah kejelasan kebenaran.”

Keindahan kaligrafi Islam adalah warisan yang perlu dilestarikan, tidak hanya sebagai seni, tetapi juga sebagai salah satu bukti keagungan dan keindahan mu'jizat al Qur'an dan ajaran Islam. Wallaahu a'lamu bi asshawaab.(abu qail)
lanjutannya klik di sini...

Kaligrafi telah lama menjadi bagian integral dari seni dan budaya Islam. Di dalam masjid, kaligrafi tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi juga sebagai pengungkap pesan spiritual yang mendalam. Sebagai produsen kaligrafi, saya berkomitmen untuk menghadirkan keindahan dan kedalaman makna dalam setiap karya yang saya ciptakan.

Masjid sebagai tempat ibadah memiliki aura yang sakral dan tenang. Penggunaan kaligrafi di dalam masjid membantu menciptakan atmosfer yang mendukung konsentrasi dan refleksi spiritual. Dengan menggambarkan ayat-ayat Al-Quran, hadis, atau kalimat pujian kepada Allah, kaligrafi mengajak jamaah untuk merenungkan makna dan pesan yang terkandung dalam tulisan tersebut.

Setiap gaya kaligrafi memiliki karakteristik unik yang mencerminkan tradisi dan budaya tertentu. Dari kaligrafi Arab klasik yang megah hingga desain modern yang minimalis, masing-masing menyampaikan keindahan visual yang dapat menyentuh hati. Warna, bentuk, dan proporsi dalam kaligrafi juga memiliki makna tersendiri, memberikan kedalaman pada pesan yang ingin disampaikan.

Dalam proses penciptaan kaligrafi, perhatian terhadap detail sangatlah penting. Pemilihan bahan berkualitas tinggi dan teknik yang tepat memastikan bahwa setiap karya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tahan lama. Penggunaan tinta dan alat yang sesuai akan menghasilkan garis yang halus dan proporsional, menciptakan karya seni yang dapat dinikmati selama bertahun-tahun.

Dengan menambahkan kaligrafi ke dalam interior masjid, kita tidak hanya mempercantik ruang, tetapi juga mengajak jamaah untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Kaligrafi menjadi jembatan antara seni dan spiritualitas, menghadirkan keindahan yang dapat menginspirasi dan menggerakkan hati.

Sebagai produsen kaligrafi, saya berharap karya-karya yang saya buat dapat memberikan manfaat dan keindahan bagi setiap masjid, serta mengajak setiap orang untuk lebih mendalami ajaran Islam melalui seni yang penuh makna ini.
lanjutannya klik di sini...

Pendapat bahwa memasang kaligrafi di masjid adalah bid'ah muncul karena ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa penambahan dekorasi yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW dapat mengarah pada perbuatan bid'ah, apalagi jika sampai mengganggu kekhusyukan ibadah. Dalam pandangan mereka, masjid seharusnya difungsikan murni untuk ibadah tanpa hiasan tambahan.

Namun, banyak juga ulama yang berpandangan bahwa memasang kaligrafi di masjid tidak termasuk bid'ah yang tercela.

Mereka berargumen bahwa kaligrafi yang berisi ayat-ayat Al-Qur'an atau nama-nama Allah justru dapat menambah kekhusyukan dan mengingatkan jamaah akan Allah. Selama kaligrafi tersebut dipasang dengan tujuan untuk memperindah tempat ibadah dan tidak sampai mengganggu konsentrasi dalam shalat, maka dianggap mubah (boleh).

Dalam Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali, umumnya ulama tidak memandang pemasangan kaligrafi sebagai sesuatu yang terlarang, selama niatnya baik dan tidak dijadikan objek pengultusan. Bahkan, sejarah menunjukkan bahwa masjid-masjid besar pada era kekhalifahan dihiasi dengan kaligrafi, seperti Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, yang dihiasi dengan kaligrafi sebagai bentuk penghormatan pada tempat ibadah.

Pendekatan ini menekankan pentingnya niat (niyyah) dan fungsi dari kaligrafi tersebut. Jika tujuannya untuk memperindah masjid dan mengingatkan jamaah kepada Allah, maka hal ini dapat diterima dan dianggap sebagai bentuk kesenian Islami yang menghormati tempat ibadah.
lanjutannya klik di sini...

Produk etsa atau etching sudah lama dikenal di dunia industri kreatif. Misalnya di dunia reklame, produk ini biasanya digunakan untuk pembuatan pin atau plakat, dan sejenisnya. Namun belakangan ini sejalan dengan kemajuan teknologi, khususnya teknologi digital, produk etsa (etching) sudah jarang kita jumpai untuk jenis produk di atas karena sudah tergantikan oleh cetak digital. Pin sudah tidak lagi dibuat dengan teknik etsa tapi menggunakan print digital.
Namun tidak demikian dengan produk kaligrafi, lembagaqurani yang konsiten dalam bidang seni kaligrafi senantiasa mempertahankan produk etsa (etching) sebagai salah satu produk unggulannya. Di tengah maraknya dan membanjirnya produk kaligrafi produk fabrikasi, kaligrafi etching tetap memiliki nilai dan segmen pasar tersendiri. Produk di atas adalah salah satu produk kaligrafi etching "Ayat Kursi" dengan menggunakan bahan plat kuningan. Produk asli Lembagaqurani mulai dari disain tulisan, proses produksi sampai pasca produksi. Produk ini launching pertama awal tahun 2020 yang dipesan oleh seorang pengusaha otomotif. Ukurannya 120cm x 180cm (bingkai) dan 90cm x 150cm tulisan. lanjutannya klik di sini...

Kaligrafi sanblas dan motif sanblas masih belum dikenal luas walaupun produk ini banyak dijumpai di masjid-masjid atau musholla. Motif-motif yang sudah beredar tersebut banyak memiliki kemiripan dan persamaan. Hal ini disebabkan karena motif-motif itu bisa dengan mudah kita dapatkan melalui internet.

Namun ada juga motif sanblas yang didapat melalui kreasi sendiri, misalnya motif Pintu Masjid Nabawi. Motif ini adalah satu-satunya motif sanblas yang baru dibuat. Motif ini pertama kali dipesan dan dipasang di pintu utama Masjid Al Ikhwan Tebet. lanjutannya klik di sini...

lanjutannya klik di sini...

Kaligrafi Syahadat dibuat dari bahan tembaga ditulis menggunakan khat tsuluts. Kaligrafi ini banyak dipasang di lokasi utama di masjid-masjid atau musholla. Biasanya letaknya di dinding depan di atas mihrab. Karya ini koleksi di Masjid Baiturrahman Papanggo Jakarta Utara. Masjid yang terletak di tengah-tengah pasar Papanggo ini dibangun sepenuhnya oleh para pedagang di pasar tersebut. Dilihat dari materialnya, masjid ini tergolong mewah dengan hiasan full kaligrafi di kubah dan dinding-dindingnya. Dilengkapi dengan papan nama terbuat dari bahan kuningan serta lafal Asma al Husna. lanjutannya klik di sini...

Kaligrafi etching (etsa) adalah kaligrafi yang dibuat dengan cara etsa atau mengikis bagian-bagian tertentu menjadi korosi sehingga bagian lainnya yang tidak terkikis kelihatan timbul atau embos. Proses dimulai dengan pembuatan gambar atau tulisan yang akan dietsa dalam bentuk film atau cutting stiker. Gambar tersebut kemudian ditempelkan di atas media/bahan yang akan digunakan. Misalnya kuningan, tembaga, dan stainless. Bagian-bagian yang tertutup oleh stiker itu tidak akan terkena proses korosi bahan kimia. Sedangkan bagian yang tidak tertutup akan menjadi terkikis (korosi) sehingga akan nampak jelas perbedaan permukaan antara tulisan dan dasar tulisan.

Beberapa contoh di bawah menjelaskan bahwa tulisan atau motif lebih embos/menonjol daripada dasar tulisan. Bagian yang terkikis bisa diwarnai sesuai dengan kebutuhan. Sementara tulisan berwarna sesuai dengan warna bahan yang digunakan. Jika menggunakan bahan kuningan, maka tulisannya berwarna kuningan. Jika menggunakan bahan stainless, maka warna tulisan menjadi silver.

Kami melayani pesanan kaligrafi dan motif-motif islami dengan teknik etsa. Tersedia bermacam-macam tulisan kaligrafi yang sudah populer atau tulisan apa saja sesuai dengan pesanan. Ditulis oleh khattat/kaligrafer yang disertifikasi dan juga oleh para kaligrafer dunia. Sangat cocok dipasang di rumah (ruang tamu), sebagai cindera mata, kenangan-kenangan, hadiah, souvenir, dan kebutuhan lainnya.

Hubungi kami jika membutuhkan!

Kantor : Jl. Raya Jatiwaringin no. 45 Pondok Gede Bekasi
(Pesantren Putri Assyafi'iyah Jatiwaringin)
Telp. 021 8462237, 08128058422, 081808110892

Workshop : Perumahan PESONA JATI ASRI Blok D4-D5
Jl. Jatikramat 9 (dekat Perum. Dosen IKIP)Gg. H. Nausin RT 006/05
Kel. Jatikramat Kec. Jatiasih Kota Bekasi Jawa Barat
lanjutannya klik di sini...

Related Posts with Thumbnails